Saya juga ditolong untuk berpikir integratif antara teologi dan psikologi dalam menjalani hidup ini. Hal ini saya coba realisasikan dalam khotbah-khotbah saya. Saya juga memiliki konsep yang berbeda dalam menjalankan konseling, yaitu bahwa konseling itu bukan nasehat, tetapi menolong klien sampai kepada kesadaran akan apa yang ia sedang alami dan mengapa berespons seperti demikian atas stimulan-stimulan yang ada."
Herlina Silitonga (alumnus, M.A. in Counseling)
"Belajar di kampus STTRII adalah suatu bagian indah dalam perjalanan hidup saya. Bukan sekadar belajar tentang konsep-konsep yang solid, namun di asrama saya juga mendapat pengalaman-pengalaman yang mengintegrasikan konsep yang saya pelajari di kelas-kelas dengan kehidupan pribadi dan pelayanan. Pengalaman studi di STTRII adalah anugerah bagi pendosa seperti saya."
Jey Sugianto (alumnus, M.Div.)
"Selama beberapa tahun saya studi di STTRII, ilmu yang saya peroleh baik di bidang psikologi maupun teologi sangat menolong saya semakin mengenal diri. Saya juga jadi lebih memahami siapa Allah, bagaimana Ia terus berkarya dalam diri dan menlong kelemahan-kelemahan saya. Saya berharap melalui proses belajar dan pengalaman hidup, perubahan karakter dan cara pandang saya menjadi semakin baik di mata Allah, sehingga pada waktunya nanti Ia berkenan memakai saya."
Patricia Siahaan (mahasiswi, M.A. in Counseling)
"Anak saya adalah alumnus STTRII. Saya melihat perubahan dan kemajuan yang begitu pesat dalam kehidupannya sejak ia mengambil program M.Div. di sekolah ini. Menurut penilaian saya, STTRII adalah lembaga pendidikan teologi yang telah berhasil memadukan pengetahuan teologi dengan realitas praktis kehidupan yang seutuhnya dari setiap mahasiswanya."
Pdt. Pilipus Boediprayitno (Gembala Sidang GBT Purwokerto, ayah dari Pdt. Yason Budiprasetya, alumnus, M.Div.)
"Sejak kecil anak saya memang sudah menunjukkan ketertarikan terhadap kegiatan-kegiatan rohani. Saya bersyukur bahwa ia dapat belajar dan dilatih di STTRII untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Saya melihat kemajuannya yang begitu pesat, baik dalam kedewasaan maupun dalam kemampuannya mengkonsepkan pemikiran-pemikiran teologi dan filsafat. Saya berdoa supaya ia boleh menjadi terang di tengah kegelapan dunia."
Pdt. Jacob Oentoro Kurniadi (Gembala Sidang GBT Surabaya, ayah dari Simeon Theojaya, alumnus, S.Th.)